Minggu, 27 Maret 2016

Zona nyaman PNS

11 tahun sudah saya berada di zona nyaman. Zona nyaman sebagai seseorang yang berpenghasilan tetap. Iya, itu nyamannya. Tetapi jauh dari itu secara hati, saya belum merasa nyaman. Banyak sekali pertentangan dalam diri saya. Belum lagi masalah ketiadaan asisten rumah tangga di rumah. Masalah itu menyebabkan saya sering terlambat, tidak konsentrasi bekerja, dan yang pasti mengganggu konsentrasi suami juga.
Sekarang, saya semakin mantap untuk keluar dari PNS. Iya, ingin sekali keluar secepatnya.

Aneh, iya saya memang aneh. Tapi biarlah, yang penting saya bisa mengurus rumah tangga dengan baik. Suami juga bisa fokus bekerja. Tidak terbebani dengan masalah di rumah. Kadang saya merasa bersalah sebagai seorang isteri dan ibu. Ah,....

Belum lagi suasana di kantor yang kurang nyaman. Serba aneh. Benar dan salah tidak lagi menjadi perkara yang jelas.

Akan banyak sekali yang menentang. Itu pasti!!
Tapi, bukankah Allah saja yang Maha Benar Janjinya...

Wallahu'alam. Semoga saya bisa merealisasikan keputusannya.

Minggu, 28 Februari 2016

Saatnya nanti..

Saatnya nanti orang-orang yang berkuasa akan dipergilirkan
Saatnya nanti yang di atas akan bertukar dengan yang dibawah begitu seterusnya
Saatnya nanti akan ada tawa dan tangis, senang dan sedih
Saatnya nanti akan ada pengadilan yang Maha Adil

Ah akan kemanakah jiwa ini...
Semoga berkumpul dengan orang-orang shalih
dengan para Nabi,
dan menatap indah wajahMu Rabb

Maka hari ini dan seterusnya...
Kuindahkan lisan dan tulisanku untuk menghamba padaMu
Ampuni semua dosaku Rabb

Do'aku

Ya Allah.. lindungilah kami dari siksa api neraka
Ya Allah berkahilah keluarga kami
Ya Allah...tinggikanlah derajat kami
Ya Allah... jadikan aku orang yang bermanfaat
Ya Allah tunjukkan aku jalan yang lurus...
Rabb tolong kami

Minggu, 21 Februari 2016

Ayah dan anak perempuannya




"Kenapa cuma ayah dengan anak perempuannya?" mungkin itu pertanyaan yang terlintas pertama membaca judul di atas. Iya, karena saya cuma akan bercerita tentang dialog antara suami dan anak-anak perempuan kami.

Biasanya saat berkendara bersama keluarga akan duduk di depan mendampingi suami. Anak-anak duduk dibelakang. Namun saat perjalanan kemarin anak-anak minta duduk didepan. Alasannya mereka pusing duduk di bagian paling belakang. O ya perlu diketahui kendaraan pribadi kami adalah sedan. Pada perjalanan ke Bandung kemarin kami meminjam mobil teteh saya karena kondisi mobil kurang sehat dan kami harus membawa orang tua. Mobil teteh adalah MPV 3 Roll. Anak-anak duduk di bagian paling belakang. Sebenarnya saya sudah membuat kondisi senyaman mungkin tapi mereka tetap bilang pusing.

Okelah akhirnya saya mengalah. Secara bergantian Aqilah dan Kamila duduk di depan berdampingan dengan ayahnya. Ada yang menarik bagi saya sebagai seorang Ibu. Baik Aqilah maupun Kamila sama-sama asyik ngobrol dengan ayahnya. Ya...pertanyaan-pertanyaan sepele tapi memang berbeda ya sudut pandang jawaban seorang ayah dan seorang ibu. Ayahnya sabar sekali menjawab setiap pertanyaan Aqilah dan Kamila walaupun saya tahu kondisi ayahnya yang sangat lelah. Bahkan setelah terjadi insiden mobil menyenggol bahu jalan pun sang Ayah masih bisa menjawab dengan tenang. Whuaaa.... beda banget dengan aku. Iya suamiku sabar sekali meladeni anak perempuannya.

Apa saja yang ditanyakan mereka?
1. Ayah, marka jalan itu apa
2. Ayah, ini masih di Bandung?
3.....

Sayangnya saya lupa pertanyaan apa saja yang diajukan bocah-bocah heuheu. Intinya, sering-seringlah anak-anak mengobrol dengan anak-anaknya. Sebagian besar waktu anak-anak biasanya bersama ibunya. Jadi saat dengan ayahnya tentu cakrawala pengetahuan mereka juga bertambah. Yang pasti sudut pandangnya juga berbeda.

Demikianlah, Ayah....ayo jalan-jalan lagi...heheh

Kamis, 07 Januari 2016

Liburan di penghujung 2015

Alhamdulillah...masih ada jatah cuti tahunan. Maka jadilah saya cuti tiga hari di akhir tahun. Niatnya memang untuk menemani anak-anak yang sedang berlibur di akhir semester. Menemani anak-anak bermain di rumah, menemani ke perpustakaan, dan jalan-jalan. Ya... khadimatpun tidak ada. Jadinya libur cutipun diisi dengan menjadi IBU RUMAH TANGGA 100%. Nah lho... iya kali ini aku menjiwai sekali status ini. Biasanya kalo khadimat tidak ada pusiiing. Tapi sekarang alhamdulillah menikmati. Mungkin karena efek cuti ya...nggak ada beban.

Satu hal saya bisa mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anak. Saya mencontoh apa yang dilakukan oleh almh.Emak yang membagi tanggung jawab kepada anak-anaknya. Maka Aqilah diberi tugas untuk membersihkan ruang keluarga dan kamar tidur. Kamila diberi tugas membersihkan area dapur sampai ke depan. Alhamdulillah mereka senang dan hepi. Bahkan Kamila teliti sekali membersihkan meja dan kursi makan ckckck...luar biasa anak cantik. Aqila menyetrika, Kamila mencuci piring. Seru juga. Tapi jangan membayangkan mereka setiap hari rutin ya...karena bisa saja mereka macet karena ada film kartun :( . Yaaa namanya juga anak-anak kudu sabar mengingatkan dan menyemangati.

Jadi liburannya dimana??? ya sekitaran Cilegon lah dan pastinya bebenah rumah hehe... love u kids.


Rabu, 24 September 2014

Selamat ulang tahun Aqilah...

Aqilah....sekarang sudah tujuh tahun Nak usiamu
Ibu bangga kepadamu Aqilah...
Ibu sayaaaaang Aqilah
Sekarang Aqilah sudah kelas satu SD
Teteh memang pinter...di kelas teteh sudah bisa adaptasi
Dan nilai teteh didominasi nilai 100

Maafkan ibu teh..
jika ibu kadang tidak sabar
Klo Aqilah susah mandi
Kalo Aqilah susah bangun
KAlo Aqilah lama pake baju
Kalo Aqilah senengnya maiiiiiiin dan maiiiin
KAlo Aqilah senengnya duduk diatas pohon seri (enak banget bu...santai katanya)
Kalo Aqilah tetep main sampai maghrib

Ah...dunia sekarang memang tak lagi ramah untukmu Nak
Anak-anak bebas bermain kaya Aqilah mungkin dianggap orang ibunya ga ngurus
Ah.... bermainlah sebebasmu Nak
Sampai kau puas dan habiskan kekanak-kanakanmu hingga saat dewasa nanti kau tidak lagi kekanak-kanakan...

Selamat ulang taun Aqilah sayaang

Minggu, 22 Juni 2014

hadir disini
 tp hakikatnya tidak ada

bernafas
 tp hakikatnya mati

berbicara
 tp tidak dengan jiwa

kering
 rapuh
 terlalu
 mehyebalkan
 sangaaaat

 tanpa nilai
 tanpa harga

tak adalah imbal balik

menunggumu...
 menghisap energi
























Sabtu, 21 Juni 2014

nas7b

susah ya jadi perempuan
 serba salah

bingung
 banyak yg dianggap tidak pantas

susahnya jadi perempuan

terlalu banyak variabel yg harus dipikirkan

untuk sebuah tindakan sederhana sekalipun

jadi susah melangkah

ini, itu, anu, banyak amat ya...

berebeda dgn dirinya.

mau apapun g ada larangan....
 semuanya dianggap pantas2 saja.

salah sekalipun

dan perempuan...

selalu yg mengalah.

apa berarti kalah?

absurd..
 g jelas...






















Senin, 09 Juni 2014

menunggu

menunggu kelahiranmu, hari demi hari...
mungkin karena terlalu cepat mengambil cuti jadinya pekerjaan menunggu ini begitu terasa.

menunggu kelahiran anak ke 3 bagiku, sama antusiasnya dengan menunggu kelahiran anak ke 1 dan 2. tetap menakjubkan. deg-degan dan harap-harap cemas.
 kadang, seperti sudah dapat kucium harummu anakku...

jika sudah tiba waktunya....semoga semuanya lancar, mudah, dan  selamat yaaa...








Kamis, 03 April 2014

beruntungnya aqilah dan kamila

iya, sungguh beruntunglah kedua anakku. punya ayah yang baik hati. kalo ayahnya pulang cepat, maka waktu selepas maghrib adalah waktunya "berantem" dengan ayahnya. walaupun ada ibunya, anak-anak lebih suka beraktifitas fisik. menaiki punggung ayah, lompat dari kasur untuk ditangkap ayah, perang bantal, main polisi-polisian, gagarudaan, tebak-tebakan, apapun mereka senang sekali dengan kehadiran ayahnya.
 Dan aku dengan kemahilan yg semakin tua (hehe lebay) cuma tidur-tiduran saja menyaksikan kebahagiaan mereka. sssssttt...ada ayat Allah pada canda dan tawa antara anak dan ayah, alhamdulillah. Senang rasanya menyaksikan mereka heboh bersama, main bersama, dan berkeringat bersama. Dan yakinlah kami aqilah dan kamila adalah anak-anak dengan kecukupan kasih sayang ayah, insyaAllah.
 Suamiku pun tak jarang didaulat untuk bercerita. Kancil dan kera, kerbau dan buaya, kancil dan kura-kura, timun mas, kisah pengembara dengan keledainya, dan...apalagi ya... Aqilah dan kamilaku akan mendengarkan dengan takzim cerita ayahnya. Seru dan hangat sekali suasananya. Aku pun selalu ikut mendengarkan sambil sesekali ikut menambahkan. Asyiiik banget deh. Sampai-sampai anak-anak pun hafal dengan cerita yang selalu diminta diceritakan ulang.

Yang lucu lagi waktu aqilah masih 5th dan kamila 3th saking capeknya ayahnya bercerita dengan cerita yang sama dalam hari yang sama, akhirnya saat ayah bercerita direkamlah di BB jadi kalo dah capek, putar saja rekamannya. hehe...

kalau sekarang....anak-anak sudah cukup besar. dan ada asas manfaatnya kawan. Saat sudah lelah bermain dan bercerita. anak-anak disuruh bayar sama ayahnya. Bayarnya apa coba? hihi ayahnya minta dipijitin huahaha...eksploitasi anak ya. Maklum ibunya sudah mabok.tapi jangan salah dalam pijitan itu Aqilah secara tidak langsung sedang belajar perkalian. Koq bisa? bisa dong... ayah anwar geto loh...hihi maap lebay. dan Aqilah pun sudah paham perkalian...secara tidak sengaja lho, beneran..ah itu cuma satu diantara banyak manfaat kehangatan dalam keluarga kami.

Terima kasih ya Allah untuk semua kenikmatan dan kebaikan yang Engkau limpahkan kepada keluarga kami.












Minggu, 17 November 2013

i'm pregnant

Alhamdulillahirabbil'alamiin

Terima kasih ya Allah, aku diberi kesempatan untuk mengandung anak ke 3.
Tapi kehamilan kali ini sungguh berbeda. aku merasa lemas dan letih setiap hari.
inginnya kulawan rasa itu tapi...
ah, aku harus bisa.

Minggu, 28 April 2013

Cerita di suatu sore

Sore hari .....
Kamila menumpahkan air dari gelas...
Dan aku tertegun sesaat....
Kamila pun diam menatapku
Terasa sekali otakku memproses rangsangan itu
Benar-benar aku rasakan pergulatan yang terjalin antara otak dan hatiku..
Untuk memenangkan diantara dua pilhan
Apakah aku emosi dan memarahi Kamila atau aku berekspresi biasa-biasa saja...
Dan....
Ekspresi biasa saja alias normal saja yang memenangkan pergulatan itu...
"Kamila ambil lap ya...trus dilap ya.." Kataku masih datar
Sesaat Kamila langsung mengampil kain pel dan mengepelnya sendiri...
'Lain kali Kamila hati-hati ya" Kataku
Kemudian Kamila menciumku..
Setelah selesai aku bertanya "Kenapa Kamila cium Ibu?"
"Ibu baik sih, nggak marah sama Kamila..." sambil tersenyum
Oh...cintaku....
Jawaban yang sederhana namun padat sekali isinya
Benar-benar kau menghargai sikapku...
Menyentuh lubuk hatiku yang dalam....
Mengingatkanku akan pergulatan antara marah dan sabar
Subhanallah dalam kesabaran itu benar-benar berbuah rasa sayang antara Kamila dan aku..
Kupeluk Kamila kubisikkan di telinganya "Ibu sayaaaaaaa...aaaaang sama Kamila"
Kamila tersenyum "Kamila sayang Ibu" katanya.

Sahabat, cerita tadi meyakinkanku bahwa seorang anak seperti Kamila "pun" bisa sangat menghargai sikap kita, orang tuanya. Saat saya menghargai Kamila dengan bersikap seperti kepada orang dewasa dalam arti  tidak marah atau emosi. Dia mampu membalas secara lebih baik juga.

Hanya saja kadang, saya sendiri sebagai seorang ibu
Kurang sabar untuk memahami
Kurang sabar untuk mengerti
Kurang sabar untuk mendengarkan
Kurang sabar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya
Kurang sabar untuk melihatnya berproses
Kurang sabar untuk memberi pemahaman
Kurang meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita-ceritanya
dan masih banyak sekali kekuranganku sebagai seorang Ibu

Padahal....
Andai lebih banyak pesediaan sabar kita dan tabungan waktu luang kita untuk buah hati kita, insyaAllah anak-anakpun akan membalasnya dengan hal-hal yang luar biasa diluar dugaan kita. Karena anak-anak adalah ayat-ayat Allah yang harus ditafakkuri selalu...





Selasa, 26 Maret 2013

Perahu Lancang Kuning Untuk Aqilah

Hari ini adalah special day dengan tema kendaraan di sekolah Aqilah. Anak-anak dianjurkan untuk membawa mainan kendaraan dan baju bergambar kendaraan. Sampai dengan kemarin pagi sih tidak bermasalah karena saya masih mengingat untuk mencari kaos bergambar kendaraan di toko belakang kantor. Tetapi sampai dengan sore ternyata saya lupa. Yang saya ingat adalah sepulang kantor saya harus segera pulang untuk mengajar di TPA karena salah seorang gurunya berhalangan hadir. Begitulah sepanjang hari yang saya ingat hanya mengajar di TPA. Karena terburu-buru, saya pun lupa untuk mampir di toko. Di tengah jalan saya baru ingat. Saat itu pun saya bingung antara ke toko atau lanjut pulang untuk mengajar TPA. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagi ke toko. Malang nasibku hehe..di toko tersebut tidak ada baju bergambar kendaraan. Karena khawatir kesorean saya memutuskan untuk langsung pulang saja sambil berpikir mudah-mudahan di rumah ada baju bergambar kendaraan.

Dan sore itupun akhirnya saya lewati bersama anak-anak di TPA. Ba'da maghrib saya baru teringat akan nasib baju tersebut. Saya pun segera berlari ke kamar Aqilah dan berharap menemukan bajunya. Alhamdulillah...saya menemukan sebuah baju bergambar kendaraan. Baju bergambar perahu lancang kuning oleh-oleh dari ayahnya saat ke Pekan Baru. Segera saya tunjukkan kepada Aqilah dengan agak hati-hati khawatir tidak mau. Dan....Aqilah menangis sekencang-kencangnya...."Aqilah nggak mau baju itu....." "Aqilah maunya yang ada gambar mobilnya...." "yang ada pesawatnya......".
Masya Allah...Aqilah benar-benar menangis sejadi-jadinya...Aku berusaha menenangkannya dengan mengatakan "Teteh, ini juga kendaraan, ini kendaraan di laut teteh....pasti Ibu Guru suka.."
Aqilah tetap tidak mau dan masih menangis kencang. "Teteh, tadi ibu sudah cari di toko tapi ga ada yang jual sayang.." rayuku. "Ngga mau......pokoknya yang ada gambar mobilnya aja!!"....

Otakku berpikir keras untuk mencari solusi dan Aha!! "Ibu telepon wa ovat ya untuk pinjam baju Aa Hanif" bujukku lagi. "Ngga mau....Aqilah ngga mau....itu mah baju laki-laki..." dan tetap aku telepon untuk mencari alternatif. Aqilah masih menangis walaupun aku membujuknya untuk menjadi anak yang selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya. But, ngga ngaruh dan ngga ngefek sama sekali.

Akhirnya aku mencoba menenangkannya dengan mengalihkan perhatiannya kepada acara lusa jalan-jalan ke bandara. Alhamdulillah tangisnya reda tapi mukanya masih penuh dengan air mata. Oh teteh Aqilah maafin ibu nak. "Teteh Aqilah mau bawa apa ke bandaranya? susu coklat?" tanyaku. Aqilah pun beringsut mau dipeluk sambil mengangguk. "Iya....Aqilah mau bawa susu sama ciki sama minuman yang kuning itu.."
dan bla bala...banyak deh.

Alhamdulillah ya Allah sekarang Aqilah sudah tenang. Malam itu kulalui dengan tidak lagi membahas mengenai baju bergambar kendaraan. Saya khawatir Aqilah akan menangis lagi. Sampai saat mau tidur saya hanya mengajaknya berdo'a dan mengingatkan untuk bangun pagi dan jadi anak yang sholihah. Alhamdulillah Aqilah menurut dan diapun berdo'a sambil mengangkat tangannya "Bismika Allahumma ahya wa bismika amut..Ya Allah tidurkanlah Aqilah, semoga Aqilah mimpi ketemu Nabi dan masuk syurga". Aamiin terharu dengan doanya yang ingin bertemu Nabi. Subhanallah semoga Allah mengabulkan doamu Aqilah sayang... Aqilah pun tertidur sambil ikut membaca surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, dan Al Ikhlas...

Dan pagi ini....adalah saat yang sangat menentukan. Kusambut Aqilah dengan ciuman dan do;'a bersama. Kukatakan "Aqilah yang lembut hatinya ayo bangun terus mandi.." sambil terus berusaha untuk membuat hatinya nyaman kukatakan "Aqilah dan Kamila sudah ibu do'akan supaya menjadi anak yang lembut hatinya, mulia akhlaknya dan jadi anak yang cerdas dan sholihah". Berharap sekali kalimat-kalimat tadi masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Dan sepanjang pagi itu aku hanya berharap dan berdo'a penuh kepada Sang Pemilik Hati, yang Maha membolak balikkan hati manusia. Berharap Allah akan melembutkan hati Aqilah dan tidak menangis lagi. Kemudian kukatakan "Ibu senang sekali Aqilah pagi ini bangun sambil tersenyum". Begitulah aku terus menguatkan hatinya sampai Aqilah selesai mandi. 
Sambil terus berdo'a kupakaikan Aqilah celana panjang. Saat akan memakaikan kaos lancang kuningnya ternyata Aqilah tidak mau. "Bu aku pakai bajunya nanti aja kalo udah mau berangkat". Alhamdulillah...Aqilah tidak marah dan menangis...terima kasih ya Allah.

Saat sudah datang jemputannya saya sedikit khawatir Aqilah akan marah. Tetapi ternyata Aqilah dengan senang hati dipakaikan baju lancang kuningnya beserta jaketnya. Ya Allah ...begitu mudahnya...
Sambil berangkat, seperti biasa aku bilang "Teteh hati-hati ya....Ibu sayang Aqilah..." dan alhamdulillah dijawab dengan bersemangat "Aqilah sayang Ibu....." bahagianya....

Begitulah, dengan izin dan pertolongan hanya dari Allah saya dan Aqilah bisa melalui semuanya dengan baik dan happy....dan bertambahlah keyakinanku bahwa Allah itu Maha dekat, Rahman, Rahim, dan Penolong kepada setiap hamba-Nya..Alhamdulillah..

.... i love you teteh aqilah.....












Selasa, 26 Februari 2013

Dialog Kamila dan Ayah

Pagi-pagi Kamila ikut mengantar teteh Aqilah sekolah. HAri ini teteh diantar dengan mobil. Ketika melewati gerbang komplek terjadilah dialog ini:

Kamila: Ayah, kenapa ayah nggak bilang makasih udah dibukain pintu? Kamila itu kalo minta dibukain pintu sama ibu atau teteh Aqilah bilang terima kasih, ayah!
Ayah: Tadi Kamila juga belum bilang terima kasih abis disuapin sama ayah
Kamila: Iya tapi kan tadi ayah nyuapinnya sambil marah-marah
Ayah: hehe....pinter nih Kamila...

Minggu, 13 Januari 2013

Antara Habibie dan ayah - antara Ainun dan emak

Membandingkan Habibie dan ayahku memang tidak sebanding. Pak Habibie yang mantan Presiden RI, pembuat Pesawat N 250 yang sangat disegani di seluruh dunia, seorang yang cerdas dan hebat. Dulu waktu saya masih anak-anak tak jarang kami bercita-cita seperti Bapak Habibie yang hebat itu. Sedangkan ayahku hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil biasa yang bekerja menggantungkan hidupnya dengan mengabdi pada negara.

Membandingkan Ainun dan emakku juga tentu tidak sebanding. Ibu Ainun adalah isteri dari orang paling cerdas di Indonesia pada masanya dan seorang dokter mata yang hebat. Sedangkan emakku adalah seorang guru SD di pelosok desa. Tetapi Emakku adalah pejuang pendidikan yang hebat. Emak adalah contoh seorang pendidik yang benar-benar menjiwai profesinya sepenuh hati. Di saat sekolah-sekolah di kota berlomba untuk menarik iuran yang besar dari siswanya maka emakku justeru membebaskan biaya masuk sekolah saat beliau menjabat Kepala Sekolah. Saat ada dana blok grant dari pemerintah emakku mati-matian berjuang supaya dana tersebut benar-benar digunakan untuk membangun sekolah yang sudah rusak. Banyak sekali tantangannya sehingga emakku jatuh sakit.

Saat membaca buku Ainun Habibie yang terbayang dalam benak saya adalah ayah dan emakku. Keduanya memiliki persamaan. Persamaan yang dapat dimiliki tanpa memandang status sosial, harta, pangkat, jabatan, atau apapun. Antara Aninu Habibie dan Ayah emakku sama-sama memiliki cinta sejati. 

Habibie dan ayah benar-benar memiliki cinta yang tulus dari seorang suami kepada isterinya. Bahkan sampai dengan ajal memisahkan mereka dengan isterinya.

Jika Ibu Ainun memcontohkan bagaimana beliau memilih tidak bekerja demi mendampingi anak-anaknya. Maka emakku mencontohkan bagaimana seorang ibu bekerja yang senantiasa mengayomi anak-anaknya. Jika pulang dari sekolah, maka emak akan segera mencari anak-anaknya. Menyapa dan bersegera mengambil alih dari  pengasuhnya. Lalu bersegera pula memasak dan menyiapkan makan siang untuk kami dan ayah. Sebuah contoh yang akan selalu membekas didalam ingatanku.

Jika ibu Ainun meninggal karena sakit kanker rahim, emakku meninggal karena kanker kulit yang bersarang di rahimnya. Saat-saat merawat emak adalah saat dimana aku melihat bagaimana ketulusan ayah merawat emak saat sakit. 
Waktu itu adalah bulan Agustus saat aku, ayah, dan emak yang menghadap dokter di RS. Dharmais. Pertemuan yang sangat dinantikan setelah kami bolak-balik lebih dari lima kali dari cilegon ke dharmais untuk memperoleh kepastian penyakit apa yang diderita emak. 
Masih sangat jelas dalam ingatanku. Sore itu pukul empat. Kami sudah pasrah antara bisa bertemu dan tidak dengan dokter ahli. Dalam hati saya terus berdoa untuk keselamatan emak. Dan setelah penantian panjang akhirnya emakpun dipanggil dokter yang bersangkutan. Aku ikut mendampingi emak. Dokter memeriksa emak dan sedikit bertanya. Dokter memanggil dokter bedah untuk berdiskusi. Dan akhirnya.....Pada hari itu dokter berkata "Ibu sakit kanker kulit yang sudah lanjut, harus segera dirawat"
Allahu akbar. Dunia seakan runtuh. YAng terbayang saat itu adalah kematian. Ya kematian emak yang kami cintai sepenuh hati. Tergambar jelas bagaimana kesedihan di wajah ayah dan emak. Sebenarnya akupun sangat sedih,,,, tapi aku harus berusaha tegar. Ya Allah Ya Rabb sembuhkanlah emakku. Sepanjang perjalanan didalam mobil kami terus berdzikir, melantunkan surat YAsin dan do'a-do;a lainnya bersama-sama. Alhamdulillah emak memiliki adik yang demikian sholeh yang bisa membimbing kami untuk tetap melafadzkan asma Allah.

Tetapi vonis sudah dijatuhkan. Selanjutnya emak harus rela menjalani hari-harinya dengan bolak balik dirawat di RS Dharmais. Jarak yang jauh dari rumah serta kondisi psikologis emak yang labil dijalani ayah dengan penuh ketulusan. Pada saat itu apapun akan dilakukan ayah untuk kesembuhan emak. Berbagai macam pengobatan serta biaya yang tinggi tidaklah mengapa. Yang penting emak bisa sembuh. Satu hal yang bisa diambil contoh bagi kami adalah ayah menolak pengobatan yang tidak sesuai dengan aqidah. Luar biasa, ditengah keinginan emak supaya sembuh dan iming-iming ada "orang pintar" yang bisa mengobati penyakit kanker ternyata tidak menggoyahkan keimanan ayah.

Saat emak dirawat di RS Dharmais ayah menunggui emak dengan telaten, hanya sesekali ayah pulang ke rumah untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga supaya dapat menunggui emak lagi. Sebuah gambaran seorang suami yang begitu cinta dan tulus pengorbanannya kepada seorang isteri.

Dan... saat perpisahan itu harus datang. Emak meninggal dunia pada hari Minggu tanggal 2 Februari 2009. Pada saat kematian hingga 40 harinya yang terpancar adalah ketegaran dari seorang suami yang ditinggalkan oleh isterinya tercinta. Namun setelah lewat dari 40 hari barulah ayah merasa benar-benar kehilangan emak. Di rumah sakit ingat emak. Di tempat pendaftaran ingat emak. Di dapur, di kamar, di setiap sudut rumah semuanya mengingatkan kepada emak. Betapa sedihnya ayah saat itu. Dari setiap kenangannya akan emak ayah selalu menceritakan hal-hal yang baik dari emak. 
Bagaimana pengabdian emak kepada ayah yang begitu tulus. 
Bagaimana kesabaran emak dalam mengurus anak-anaknya. 
Bagaimana kesabaran emak dalam mengurus ayah terutama dulu ayah sering keluar masuk rumah sakit. Bagaimana emak bisa merekatkan hubungan dua keluarga yang kurang harmonis. 
Bagaimana emak tidak pernah menyakiti hati orang lain bahkan tukang sayur sekalipun. 
Bagaimana emak mengurus rumah tangganya dengan baik.
Dan masih banyak lagi yang ayah ungkapkan tentang kebaikan-kebaikan emak.
Subhanallah,begitu tulus dan sejatinya cinta mereka. Mereka adalah pasangan belahan jiwa. Jika yang satu sakit maka akan terasa sakit pula pasangannya. Mereka adalah pasangan yang seia sekata. Hampir tidak pernah ayah dan emak berantem. Emak sangat tahu apa yang ayah suka dan tidak. 
Sampai saat ini, setelah 4 tahun ditinggalkan emak. Ayah masih fasih bertutur tentang kebaikan-kebaikan emak semasa hidupnya. Kerinduan yang selalu ada dihati ayah untuk emak. Subhanallah.
Semoga Ayah dan emak, Habibie dan Ainu kelak akan dikumpulkan kembali di SyurgaNya amiin. 
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kedua orangtuaku. Semoga Allah menyayangi kedua orangtuaku seperti mereka menyayangiku pada waktu aku kecil. amiin.

Selasa, 08 Januari 2013

kehebohan di pagi hari...

Pagi ini anak2 sudah heboh semuaaaa
Aqilah minta dibelikan TV yang aqilah bisa masuk kedalamnya katanya hehe...korban iklan ini mah
Kamila bertanya kenapa ga mules2 ya kan ketuban kamila udah pecah. hadeh si neng kamila.....

Senin, 24 Desember 2012

Diam...

Diam...
Tak banyak kata
Sebenarnya mauku tidak begitu
Tak ingin ada pengkhianatan
Terhadap apa dan siapapun
Merobek-robek keyakinanku
Tapi...
Logika kebanyakan orang
Kadang menggoyahkan langkahku
Madu yang ditawarkan begitu manisnya
Aku bermonolog dalam hatiku
Mencoba menakar keberanianku untuk berkata TIDAK
menakar keimananku untuk MENOLAK
Berani berkata benar, jujur, tanpa embel-embel apapun

Dan..
Aku masih di titik yang sama
berpikir ulang
Mereka-reka 
Semoga suatu saat nanti keberanian itu datang
Dari yang Maha Menguatkan Maha Segalanya
Laa Hawla walaa Quwwata illa billah...

Aqilah dan logika aljabarnya..

Bukan Aqilah namanya kalau tidak rajin mempertanyakan tentang sesuatu, apapun itu. Bukan pula Aqilah namanya jika tidak mempertanyakan sesuatu walaupun kadang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Suatu waktu ketika baru masuk kamar, Aqilah mengambil remote AC. Dilihatnya dan ditunjukkannya kepadaku. "Ibu, ini dibacanya tujuh ratus", sambil menunjukkan remote yang bertuliskan "7:00". "Iya betul, tapi kalau tujuh ratus tidak ada titik duanya teh" kataku. Selanjutnya...
Aqilah: "Ibu tahu ngga kalau a terus nolnya ada dua, dibacanya apa?
Ibu: "emang apa teh?"
Aqilah: "a ratus bu!" sambil tertawa-tawa
Ibu: "o ya?" (aku bingung, lha ini bocah tahu dari mana?) "trus kalo b nolnya dua dibacanya?"
Aqilah: "Ng...b ratus lah"
Ibu: (tambah bingung tapi sungguh terpesona dengan logikanya)
Ibu: "kalo k nolnya dua dibacanya apa? (mengetes lagi)
Aqilah: "k ratus"
Selanjutnya....semakin dibua-buat logikanya kesana kemari sesukanya
"kalo mata trus nolnya dua namanya mata ratus"
"kalo baju nolnya dua namanya baju ratus"
"kalo rumah nolnya dua namanya rumah ratus"
dan masihbanyak lagi...
Aqilah yang saat itu belum genap 5 tahun mungkin tidak menyadari logika aljabarnya...
Tapi aku tahu Aqilah sedang bermain logika... Mengeksplorasi otaknya....
"Aqilah tahu dari mana kaya gitu? siapa yang ngasih tahu?"
"Ngga, Aqilah mah tahu sendiri, otak Aqilahnya dikasih tahu Allah"
"?????, Subhanallah......"

Lain waktu ketika Kamila sedang sakit radang tenggorokan aku mewanti-wanti Aqilah untuk tidak minum memakai gelas yang habis dipakai Kamila. Aku katakan berulang kali nanti Aqilah bisa tertular penyakit radang tenggorokan.
Waktu berikutnya Aqilah bilang "Ibu, Kamila suruh minum pakai gelas Aqilah aja bu!"
"emang kenapa teh?" tanyaku
"Ya, biar Kamilanya ketularan sembuh, Kan Aqilah udah sembuh bu"
Hehehe...luar biasa bukan...


Aqilah...

Teteh Aqilah sudah bagi rapot. Hasilnya....
Dari semua jenis kecerdasan yang dinilai  kecerdasan kognitifnya yang paling menonjol. Yang lainnya ya masih kurang sedikit-sedikit.
Aqilah memang mirip banget ayahnya. Kecerdasannya mungkin menurun dari ayahnya kali ya...
Aqilah senang sekali menganalisis sesuatu. Lucu dan mengagumkan.
Mulai dari lagu, fenomena alam, sampai hal-hal yang bersifat filosofis. Ah, teteh Aqilahku.
Tapi keisengannya terhadap adiknya sampai membuat Kamila sering menangis kadang mengesalkanku.
Kadang sulit sekali jika diberitahu, mudah sekali marah, emosinya meledak-ledak itulah yang kadang membuatku sedih. Tapi mudah-mudahan Aqilah bisa menjadi anak shalihah ya...amiin